Sunday, March 2, 2014

Awalan tak berakhir


Logika terkadang tak mampu berkata-kata
kata-kata tak sanggup mengungkapkan rasa
rasa ini pun berkecamuk, hingga terkadang mencambuk hati
hati ini diam terlalu lama dan lelah
lelah pun sering berhiaskan risau
risau, karena hilang tempat untuk mengadu
(per)aduan itu telah pergi, atau mungkin tertutup awan
awan kelam menghitam, menggulung-gulung
gulungan mendung...

Mendung itu datang lagi..
lagi-lagi dia datang mehalangai matahari
(silau) matahari pun meredup, bak menyusutnya sang energi
energi yang mampu menghidupkan makhluknya dalam bara
bara api menyala, penuh semangat, hangat!

(se)hangat lengkungan mungil itu, tulus
tulus hingga tak terhingga
hingga datang kembali logika..


SuryaKencana, captured by Harsha Vardhana

Menuju fajar, 030214


Tuesday, February 18, 2014

The hidden precious beauty in West Java

Most Indonesian people do not recognize Mt. Padang as popular as Mt. Tangkuban Perahu, Mt. Merapi, Mt. Papandayan, Mt. Bromo, etc. Those sites are well-known already for being one of tourist’s destinations enjoying the mountainous sceneries. Mt. Padang is not located in Padang, the capital city of West Sumatra. It is located in Karyamukti village, Cianjur regency, West Java. Mt. Padang occupies 3 ha area, was already mentioned as the biggest megalith site in Southeast Asia, compared to Borobudur temple site which is only 1.5 ha.

Megalith was derived from the word “mega” which means big and “lithos” which means stones. It is indeed, a hill covered by many andesites stairs look alike a terrace, which also spread untidily on its surface. Andesite is a kind of stone which was formed by volcanic materials after eruption. Located on 885 m above sea level, from Mt. Padang you can also enjoy the fresh air and scenery of tea plantation around. Not only enjoying an amazing history behind, you will also restore and rejuvenate energy by taking a visit on this site during the weekend.

Tea plantation around, along the road

My friend and I were going to Mt. Padang on Sunday morning by an elf. After having a night stay before, we departed there from Sukabumi. It took for about a half and an hour to reach Karyamukti village, Cianjur. But, we still had to ride up to the site for some other times. The route was quite difficult as there was only a road made of rocks. I would say that most of the trip to Mt. Padang is like an off-roading. Thus, a great driving skill and big-wheel vehicle was truly necessary. Along the road, we were amused by breath-taking panorama of a huge tea plantation. The amusement did not end yet.

Before entering the Mt. Padang, there was an old railway station, called Lampegan station. It used to be inoperative but since 8 February 2014 it is running again and becomes one of stations stopped by KA Siliwangi to serve people going from Cianjur to Sukabumi. We went straight to Mt. Padang and just prayed that there won’t be any other vehicle passing by due to the small road.

After off-roading for about an hour, we finally reached at the gate of Mt. Padang. There was a big car park for the tourists. Afterwards, we had to walk on foot. Before entering the site itself, we had to pay for tourist fees, IDR 2000 – 10000 a person. Before climbing up the stairs, there was spring water, called “Cikahuripan”. In local language, “Ci” means water and “kahuripan” means life. Thus, the local people believe that the water may give long life and is rejuvenating. 

It did not take longer than an hour to reach the top of the mount. According to the local wisdom, Mt. Padang was a sacred worship place and a sanctuary of Prabu Siliwangi. Once you visit the place, you will see the design and the miracle of its formation. The andesites, called menhir, were organized like a terrace and bond by ancient cement made of iron, silica, and clay. The most interesting thing was that the andesites were all pentagonal and there were five levels of terrace. The highest was the most sacred place to arrange a ritual. There was also some stone which sound like “gamelan”, a traditional instrument. People believe that it is used as a musical instrument during the ritual.

Ancient cement, made of silica, iron and clay

Mt. Padang was firstly found in a report of Rapporten van de oudheid-kundigen Dienst (ROD) in 1914, which was later reported by N.J Krom in 1949. However, it was just being officially restored as a heritage site in 1985. The formation of its stones looks like Machu Picchu in Peru. However, not so many people notice at its existence. Recently, some archeologist, geologists and other researcher worked as an independent team of research on ancient catastrophic disaster found out that Mt. Padang was probably built older than Giza Pyramid (2500 BC) in Egypt. After doing excavation and carbon dating on 4 up to 12 m below the surface, they found out that the material inside age 4500-12500 BC. The observation was done in collaboration with Laboratory, BETALAB, of Miami, USA. The scientists were doing some more research and investigation on it. However, it raised some protests from the opponents and local people that they concerned on the damages and distraction later. Having permits to conduct more investigation by the president, it was terminated in the end of 2013.

Human beings are getting smarter inventing more sophisticated tools and technologies. More complex methods will be fruitful for digging up the unrevealed information yet. However, being the first one taking step will always be the hardest part.

Me, on the top of Mt. Padang

Family's trip to Mt. Padang

p.s. thanks to de_Rantau, for organising this great trip!

Monday, February 17, 2014


Membentuk politik regional

Berdiskusi tentang politik tak hanya dapat dilihat dari satu sisi. Politik tak hanya terjadi dalam pemerintahan, organisasi, atau lembaga-lembaga hukum suatu negara, namun juga dapat terjadi dalam lingkup sosial terkecil yaitu keluarga. Berpolitik dinilai sebagai suatu langkah pragmatis yang ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu oleh para aktor yang berperan. Dalam berpolitik aktor-aktor yang berperan dapat berupa individu maupun negara/pemerintahan. Politik dapat terjadi dalam hubungan antar aktor domestik maupun internasional.

Dalam ilmu hubungan internasional, politik regional merupakan salah satu wujud paradigm neo-liberalisme (Viotti and Kauppi 2010, 121). Dalam paradigma liberalis klasik, hubungan tersebut dilihat dari adanya inter-dependency (saling ketergantungan) antar negara dalam bidang ekonomi dan dianggap dapat menghindarkan perang. Seiring berjalannya waktu, beberapa scholar berpendapat bahwa ekonomi hanya sebagian kecil dari sekian banyak aspek kehidupan masyarakat, antara lain sosial, budaya, pendidikan, dll. Karena itu, hubungan antar negara tidak hanya dapat dilihat dari kerjasama ekonomi. Adanya politik regional menunjukkan bahwa kerjasama yang terjadi antar negara-negara tersebut memiliki kepentignan yang sama (mutual interests) setelah ditimbang dengan rasionalitas masing-masing negara dalam lingkup area tertentu.

Beberapa "aliansi" internasional yang bekerjasama dalam tingkat regional antara lain the European Union (EU) sejak tahun 1951, South Asian Association for Regional Cooperation (SEAARC) sejak tahun 1983, Commonwealth of Independent States (CIS) sejak tahun 1991, Visegrad, ASEAN sejak tahun 1967, the African Union sejak tahun 2001 etc. Hampir setiap kerjasama regional selalu berlatar belakang kerjasama ekonomi. Dari beberapa kerjasama politik regional tersebut, Visegrad merupakan salah satu contoh regionalisme dalam regional EU. Visegrad terdiri dari Hungaria, Republik Ceska, Polandia dan Slovakia yg berada di region Eropa Tengah. Berawal dari nostalgia sejarah dan persamaan nasib, keempatnya membentuk Visegrad th 1991 sebagai upaya untuk saling mendorong agar dpt masuk ke EU dan tetap bekerjasama untuk menyatukan pendapat untuk dapat mempengaruhi keputusan dalam EU.

Kerjasama politik regional biasanya banyak dilakukan oleh negara-negara yang bertetangga, dengan latar belakang sejarah yang sama, atau dengan tujuan yang sama. Uni Eropa dapat mempertahankan perdamaian yang terjadi di wilayah mereka dengan adanya politik regional. Dengan makin maraknya globalisasi, maka kekuatan regional diperlukan untuk sebagai benteng dari "serangan global" masyarakat internasional. Namun, jika tiap negara anggota tidak memiliki kesiapan dan ketahanan kuat dalam kerjasama regional tersebut, maka negara anggota lain akan dengan mudah "mencaplok" dan mengatur yang lemah, contoh Yunani dalam Uni Eropa.

Indonesia dalam Percaturan Politik Regional

Negara anggota ASEAN

Indonesia menjadi salah satu bagian dalam politik regional di ASEAN. Beberapa pengamat politik mengatakan bahwa ASEAN sering dianggap sebagai talkshop dimana para pemimpin negara anggota hanya sekedar mengadakan summit tanpa upaya lebih lanjut untuk meningkatkan hubungan kerjasama antar anggota. Akhirnya, pada tahun 2008, dibentuk Piagam ASEAN sebagai landasan kuat untuk membentuk ASEAN Community dengan beberapa pilar kerjasama di bidang ekonomi, politik dan keamanan, dan sosial budaya. ASEAN Community akan ditandai dengan adanya momentum free movement of modal, jasa, investasi, pekerja, dan barang. Dengan adanya kebebasan ini, maka kita dapat dengan mudah jalan-jalan keliling ASEAN, bekerja di negara ASEAN, memiliki peluang pasar yang lebih luas, dll. Jika dilihat dari potensi negara-negara anggota yang sebagian besar memiliki potensi dalam makanan dan produk agrikultur, dengan kemudahan dan diperoleh dari ASEAN Community, maka tingkat kompetisi dalam masyarakat akan semakin ketat. Besarnya gap kualitas antar negara anggota juga menumbuhkan keraguan dalam kerjasama tersebut. Sebagai warga negara Indonesia, saya pribadi menyangsikan kesiapan masyarakat, terutama dengan tingkat intelektual rendah, dalam menghadapi kenyataan bahwa "kran" telah terbuka, sehingga perlu adanya peningkatan kualitas SDM agar mereka tidak tenggelam dalam arus ASEAN Community.

Bukan hanya tentang ekonomi, politik regional ASEAN akan berlanjut pada kerjasama politik dan keamanan, serta sosial budaya. Sejauh ini, pemerintah Indonesia belum benar-benar menunjukkan sosialisasi tentang ASEAN Community ke masyarakat. Sementara negara lain sudah berusaha untuk mengenal budaya negara-negara anggota ASEAN dengan mempelajari bahasanya, bangsa ini masih disibukkan dengan kasus-kasus perebutan harta dan tahta di pemerintahan Bahkan media juga jarang sekali mengangkat topik tentang ASEAN Community. Di sisi lain, peran Indonesia sebagai salah satu inisiator dalam ASEAN Community sangat besar. Selain itu Indonesia juga turut berperan dalam penyelesaian konflik yang masih memanas atas Laut Cina Selatan. Di tengah peliknya situasi dan kondisi dalam negeri, perlukah kita mencari celah dan peluang di kawasan regional? Pentingkah kerjasama regional untuk bangsa Indonesia?

Dalam konflik Laut Cina Selatan (LCS), Indonesia melalui Menteri Luar Negeri memilih jalur diplomasi preventif untuk meredam konflik negara-negara tersebut (Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei, Taiwan dan Cina) yang sama-sama mengklaim kepemilikan kepulauan yang ada di sekitar LCS. Posisi Indonesia untuk tetap berada dalam zona netral serta dorongan untuk menyelesaikan konflik dengan damai. Indonesia tidak ingin memanaskan hubungan baik dengan Cina. Di sisi lain Indonesia juga ingin menjaga stabilitas keamanan situasi dan kondisi wilayah ASEAN[1]. Karena itu, Indonesia bersedia menfasilitasi perbincangan damai penyelesaian konflik tersebut. Namun, apakah upaya tersebut berhasil? Atau upaya tersebut menimbulkan kekhawatiran tersendiri hingga dibutuhkan balance of power antar negara-negara konflik dengan pembelian persenjataan yang cukup massive oleh negara-negara tersebut.

ASEAN sebagai satu entitas tunggal merupakan pangsa pasar yang empuk bagi masyarakat internasional. Tingginya jumlah penduduk serta pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi hingga menarik minat para kapitalis dunia. Bahkan saat ini ASEAN tengah menggandeng Cina, Jepang, Korea Selatan (ASEAN +3), India, Australia dan New Zealand (ASEAN +6) untuk perluasan kerjasama dalam bidang perdagangan. Dengan kesepakatan perdagangan bebas antar negara tersebut, maka sirkulasi barang-barang produksi yang beredar akan semakin mudah dan murah. Disatu sisi masyarakat akan ditawari pilihan yang lebih beragam. Namun, bagaimana dengan produsen-produsen kecil domestik yang tidak mampu bersaing hingga kancah internasional?

Dalam laporan statistik ASEAN per November 2012[2], terlihat bahwa hampir sebagian besar hubungan perdagangan, ekspor-impor produk yang dilakukan negara-negara anggota lebih banyak dilakukan terhadap negara-negara di luar ASEAN. Hal tersebut menunjukkan bahwa kerjasama regional yang dilakukan tidak dilakukan secara efektif dan maksimal. Padahal jika dilakukan perdagangan intra-ASEAN maka biaya distribusi yang dilakukan akan lebih murah. Terdapat faktor lain yang dimungkinkan adalah kerjasama regional ini lebih bersifat kompetitif dibandingkan upaya untuk saling melengkapi kebutuhan antar negara anggota. Adanya kesamaan mayoritas produk antar negara menjadi salah satu faktor persaingan tersebut. Seharusnya, jika ketahanan pemenuhan kebutuhan internal regional dapat saling mendukung maka kerjasama regional ini dapat menjadi entitas regional yang tidak kalah dengan EU.

Untuk menghindari makin melemahnya kekuatan ekonomi dalam negeri, pemerintah sendiri seharusnya memberi regulasi yang tegas dan tepat guna dalam membekali persaingan internasional yang semakin ketat. Dengan kekayaan alam yang melimpah seharusnya pemerintah dapat memberi kebijakan-kebijakan untuk mengutamakan hasil produk-produk agraris dalam negeri dan menyaring impor-impor yang tidak perlu. Pemerintah kurang memprioritaskan kepentingan-kepentingan rakyatnya. Di sisi lain, sudah mulai terbentuk mentalite dalam masyarakat bahwa produk-produk impor pasti lebih baik dari pada produk dalam negeri.

Apakah masyarakat Indonesia sudah siap dengan adanya kerjasama regional? Dengan momentum ASEAN Community 2015, bagaimana bangsa Indonesia menghadapi serangan yang datang dari masyarakat ASEAN? Tentu pertanyaan lain muncul, apa dan bagaimana para calon pemimpin bangsa kita sudah siap menghadapi tantangan tersebut?

Dari begitu banyak tantangan di atas, tentu sesungguhnya tersimpan peluang yang jauh lebih banyak lagi. Antara peluang dan tantangan, mari saling 'membantu', mem-politisasi regional dan me-regionalkan 'politik'.

Grup Diskusi FC9 Liberal Arts - Forum Indonesia Muda
Penyusun: Armyta Rahardhani, M.Si – Asisten Peneliti di European Partnership Research Center UI


Thursday, January 30, 2014

Summer in Europe #2: Paris, je t'aime (pas)?

This is another story of mine in Europe...

Paris..a city that most people adore at, as an elegant, historical, and romantic one. Who doesn't want to go to Paris? It has the most renowned La tour d'Eiffel, the notoriously historical Cathedrale Notre Dame, the precious and prestigious Musee du Louvre, Flamme de la Liberte, Sacré-Cœur Basilica, etc. Each attraction has its own history, even since hundreds years ago. 

Here, I don't want to talk about history. I am recalling my two-years-ago memories in Paris. 

My friends and I visited Paris, as one-day trip from Brussel. It was only a group of five girls. We made different destination from the other twenty people who visited Amsterdam and Ghent in Belgium. Just like other ordinary people, we were so curious, how romantic and beautiful Paris is. So, we bought return ticket of TGV from Bruxelles-Midi to Paris Nord at 7.30 a.m and will be back again in 10.15 p.m. We've arranged the trip, which places we would like to visit. It was 23 June 2012. We took breakfast very early in the morning, at around 6 a.m. Then walked to the railway station, which was just across the road of our hotel. We were so excited so that when there was an hour delay of departure, we still thought it's okay. We lost an hour trip, yet.

We arrived safe and sound, and fast at Gare du Nord a Paris at 10 a.m. At that time, all of us didn't have any experience yet in Paris, so we've asked for a friend of mine to pick us up there. Due to the limit of time, we needed a guide so that we wouldn't waste our time, lost in Paris. It will be another story, though. Yeah, we made it. A friend of mine, has waited there and took us to Saint Michael Fountain. It was a fountain we passed on the way to the notorious Notre Dame Cathedrale. We just took couple of picture then went to Notre Dame immediately. On the way there, my friend said that he suddenly gotta go as his relative came by or his friend had a farewell party. He didn't really explain it. Well, I was shocked, it meant that we had to walk around Paris ourselves, but it's okay. We got a very clear map and high curiosity on Paris. But my friend, Ayya said that she also had a friend studying there. So she called him, to guide us.

We finally arrived at Notre Dame. It was a huge and old church, which was flooded by loads of people. I didn't know why but there was a very long queue there. I believe that it was designed sophisticatedly inside so that many people came by to pray or just looked around its interior. I had had enough visit on church in Brussels so I didn't want to queue. A friend of mine really wanted to go inside to pray. There were two persons went inside, the others were waiting outside. And yes, my friend who picked us up at the railway station left. Ayya tried to contact her friend to help us using her Belgium number. FYI, there were certain provider usable in some different countries even though some don't provide so. Thankfully, her friend agreed to help and would like to meet us at Pantheon, near the Sorbonne university. It was -used to be a church- a mausoleum, a burial site of many world-wide well-known people like Voltaire, Jean-Jacques RousseauVictor Hugo, Jean Monnet, Marie Curie, and many more.

Us, in front of the Saint Michael Fountain.
The good side was we didn't put Sorbonne as the place to visit, but we should go there to meet Ayya's friend, the tour guide. However, we didn't know the location. He said that, it was close to Notre-Dame. We walked around, asked a lady walking her baby, luckily passed the on-renovation-Sorbonne University, asked an old guy we met while waiting for a queue at a public toilet, and finally reached Pantheon. Ayya said that she ran out her account to call her friend. And none of us had any usable number to call him as well. Alors, we decided to asked a young lady in red. Actually none of us mastering French so we talked in English. But, turned out that the lady didn't understand English. We thought that it was close to a university so that English will be a common thing. Then we made gestures, Tarzan's language :P, tried to explain that we wanted to ask her to send sms to Ayya's friend. Thank God that she kindly helped us. Even twice, for Ayya's friend replied us through the lady's phone again. We finally met him, Jiro the hero!

Our feet on 0 km of Paris. There was a myth, tourists who stepped on that will go to Paris again. Aamiin.. ;)
There we started our real journey. After taking some pictures in front of Pantheon, our destination was Musee du Louvre. Jiro brought us there by Metro, and we also passed by the Musee d'Orsay. We didn't enter Musee d'Orsay nor Lourve for time limit. The Lourve was so huge and beautiful. The queue was long but not so long as in Notre-Dame. There was discount for students' ticket by showing their student's card. Jiro said that if you wanted to look thoroughly at every precious architecture and furniture in the whole Lourve, you'll need 3 days all. We just took some pictures and bought macaroons. I didn't like it as the fragrance was too strong. If you watched film the Da Vinci Code, some scenes were taken there. :)

Then we continued the journey to Eiffel. Unluckily we didn't go there at night, so we can't see the beauty of lights view. Here's the big point I'd like to say. Paris, was not as romantic and elegant as I thought. Underground, on Metro was so stinky and smelly. The people, i think they were immigrants, spitting everywhere and didn't have manner. I think, somehow, I understand why they were unacceptable in the society. A friend of mine was almost being stolen by a pick-pocket. Luckily, she realized immediately that someone in the back was trying to open her bag. And the pick-pocket was a teenager. Still very young. Jiro always reminded us to take care of our belongings. He said that there were lots of them, usually work in two or more people in group. He also said that, yes, Paris is not as good as people thought, no more. It's getting more and more crowded and lots of traffics. Paris, the capital city of French, indeed, is the most populous city in the country. 

Remembering that we run out of time, we went immediately to the next destination, Arc de Triomphe. Going there, we passed by a New York in France, Flamme de la Liberté (it was on the tunnel where Lady Di got accident), and Avenue des Champs Élysées. We passed by a magasin of Louis Vuitton and there was a long queue to enter. To my observation, most of them were Asian. Well, now we know who the real rich are. Hoho.. That avenue was famous of many stores with various brands, most are so expensive. And there was a tradition, that usually they would provide big discount, up tp 70%, at the same time every end of season. Yes, that's one of the proof that Paris is a center of fashion and mode. They got to change and make new trend each season, and "throw away" the past one. Yeay, we arrived at Arc de Triomphe. Not so many to look around, as it was a monument of struggle for French army, requested by Napoleon.

It was at 3.30 p.m. Without being lost, we happened to visit many attractions so fast. Then we took another Metro to visit Sacré-Cœur Basilica. It was located near the Moulin Rouge. If you never heard of it, you could search for a famous drama or film entitled. Then, we decided to take a break for having lunch in a fast food restaurant. Jiro said that in Paris, you couldn't easily find halal food. But the Quick fastfood is guaranteed as a halal food. Well, bon appetite et Bismillahirahmani rahim.. :)

We ate, chit-chatting and talked, turned out that Jiro was a neighbour of my fellow friend at UI. small!! He was also a close friend of Dhay, another fellow on a leadership training programme (FIM) I joined in Indonesia. After realizing that facts, I just felt that it was a real blessing from HIM. He will be always coming along with us, no matter what, where, when, and how.

Time flies and we continued the journey to Sacré-Cœur Basilica, walking. Walking around in other countries was way better and more enjoy than in Indonesia. Hmm.. I wonder why they couldn't be as discipline as in here (ngaca oi!!). Wew.. Arrived at another sacred church. I just realised that most of our destinations were church. Okay, this was Europe, its most historical places were relate to Christianity. Don't be so surprised. And the tragedy happened again. The Maghrebs were making chaos again. They were shouting each others, screaming, the others were insisting the tourist to buy some souvenirs. Well, the last part was not so fine, but remarkable. This place was a dull! However, most people said that Sacré-Cœur Basilica was a beautiful place. We didn't have enough time to go inside. Feeling insecure and running out of time, after taking some photos, we went directly to the railway station. It was around 8 p.m. But we still got sunshine. Yes, on summer, the sun set at around 10 p.m.

Going back to the Paris Nord, we accidentally met a very gentleman other than Jiro the Hero! He was a Marocoan. It would take another page to tell story about him. Luckily we arrived at the station at around 10 p.m. We went back to Bruxelles Midi right on time at 10.15. Well, I might be wrong about the Maghrebs. After all, it was so remarkable in life. And I believe that there is no coincidence. However, this one day trip, led me to rethink: Paris, je t'aime (pas)?

An automatic toilette. After using it, the person should just left then the door closed.
Then the next person should wait until it finish cleaning and flushing automatically. And it's FREE! :DD

New York in France?? It has another history... :P

Even though it was many years ago, there were still many who put a bouquet of flower
or even just visit this tunnel to commemorate Lady Di's death.


-All pics are private collections.-
Thanks to Ayya, Lien, Corina, Thao and Jiro for this remarkable trip. I miss you all.

Jakarta, 290114

Sunday, January 26, 2014



Kerjasama EU dan Rusia dimulai pada awal tahun 1990an, dalam program TACIS (Technical Assistance to the Commonwealth of Independent States). Sejak dimulainya kerjasama itu, kurang lebih sebanyak 2.7 milliar euro dalam bentuk bantuan diberikan untuk mendorong berbagai macam sektor[1].
Pada pertemuan St. Petersburg bulan Mei 2003, Uni Eropa dan Rusia setuju untuk memperkuat kerjasama dengan menjalin kerjasama jangka panjang dalam empat lingkup bersama (four common spaces) dalam kerangka Persetujuan Rekanan dan Kerjasama (Partnership and Cooperation Agreement) [2] dan pada nilai-nilai dasar dan kepentingan bersama. Keempat lingkup tersebut antara lain:

1.    Lingkup Perekonomi Bersama (The Common Economic Space), meliputi isu-isu ekonomi dan lingkungan;
2.    Lingkup Kebebasan, Keamanan dan Keadilan Bersama (The Common Freedom, Security and Justice);
3.   Lingkup Keamanan Eksternal Bersama (The Common External Security), meliputi manajemen krisis dan non-proliferasi;
4.  Lingkup Penelitian dan Pendidikan Bersama (The Common Research and Education), meliputi aspek kebudayaan.

Pada tahun 2007, TACIS digantikan oleh instrumen pembiayaan baru, Instrumen Kerjasama dan Negara Tetangga Eropa (ENPI-European Neighbourhood and Partnership Instrument). Dengan anggaran dari Komisi Eropa, ENPI merupakan kerjasama yang berbasis pendekatan regional dan bilateral. Tidak hanya Rusia, tetepi ENPI juga mencakup kerjasama dengan negara-negara lain yang berada dalam jangkauan wilayah tetangga Uni Eropa. Kerjasama bilateral antara UE dan Rusia tetap berlanjut, namun terdapat beberapa perbedaan dari TACIS ke ENPI. Tidak adalagi Program Indikasi Nasional untuk Rusia. Kedua belah pihak ingin bekerjasama lebih erat pada dasar-dasar pendanaan bersama dan proyek yang memfokuskan pada strategi prioritas dari empat lingkup bersama (Common Spaces) tersebut. Selain dari program kerjasama bilateral itu, Rusia mendapatkan manfaat dari anggaran aksi regional UE, seperti Erasmus Mundus, Tempus, Northern Dimension, dan lain-lain.

ENPI memiliki salah satu program Kerjasama Lintas Batas Negara (Cross Border Cooperation-CBC). Menurut rencana-strategi ENPI tahun 2007-2013, program CBC akan memfokuskan implementasi program yang bertujuan untuk:

(1)   pembangunan ekonomi dan sosial perbatasan regional;
(2)   penanganan tantangan vital bersama (lingkungan, kesehatan, energi, dll.);
(3)   memastikan efisiensi dan keamanan perbatasan;
(4)   mengijinkan dan meningkatkan pembangunan kontak antar penduduk.

Dalam tulisan ini akan dibahas tentang skenario hubungan kerjasama Uni Eropa dan Rusia dalam area keamanan, baik itu secara domestik maupun internasional. Skenario ini akan terbagi dalam tiga bagian, yaitu keadaan keamanan domestik, integrasi keamanan internasional, dan reformasi institusi. Dalam masalah keamanan, saat ini, Uni Eropa dan Rusia bekerja sama dalam menghadapi beberapa tantangan, baik dalam level internasional maupun sebagai wilayah yang bertetangga. Permasalahan tersebut meliputi perubahan iklim, perdagangan manusia dan obat-obatan terlarang, tindak kriminal terorganisir, perlawanan terorisme, non-proliferasi, proses Perdamaian Timur Tengah, dan Iran.

Keamanan Domestik Rusia
Di lihat dari sejarah kepemimpinan Rusia, keadaan politik dan bentuk kebijakan-kebijakan di wilayah tersebut sangat tergantung pada pemimpinnya. Saat ini, Rusia dipimpin oleh Vladimir Putin yang telah memimpin yang ketiga kalinya setelah mengalami break kepemimpinan pada periode sebelumnya, yang digantikan oleh Dimitri Medvedev. Dalam artikel yang ditulis oleh Putin, terdapat tulisan berikut ini:

“…we should not tempt anyone by allowing ourselves to be weak.”
Vladimir Putin in Rossiskaya Gazeta[3]

Dalam tulisan tersebut, dapat diinterpretasikan bahwa Putin berpikiran bahwa keamanan dan kekuatan nasional harus diutamakan agar Rusia tidak dianggap lemah di mata negara-negara lain. Setelah runtuhnya Uni Soviet, Rusia harus membayar mahal atas kekalahan dan mengembalikan kembali geliat ekonomi yang mulai mengendur karena tatanan politik yang tidak stabil. Banyak negara-negara yang tadinya menjadi bagian dari Uni Soviet dan cukup berperan dalam sektor ekonomi melepaskan diri, sehingga Rusia harus membangun kembali kekuatan ekonomi dan menerapkan basis negara yang baru yaitu demokrasi. Pada awalnya Rusia lebih mementingkan kerjasama di bidang ekonomi untuk mengembalikan kekuatan perekonomian serta kondisi domestik negara dari krisis. Rusia mulai membuka interaksi ekonomi dengan dunia luar meskipun masih sangat terbatas. Hal itu dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan dunia internasional terhadap mereka. Namun, Putin memiliki pandangan lain, bahwa mereka tidak akan bisa mempertahankan kekuatan ekonomi dan melindungi penanaman prinsip-prinsip demokrasi di Rusia jika mereka tidak memiliki kekuatan keamanan yang mampu menjamin dan melindungi keadaan internal negaranya.
Di dalam Rusia sendiri tingkat kriminalitas yang cukup tinggi hingga mencapai lebih dari 2,4juta pada tahun 2011[4]. Jenis tindakan kriminal tersebut meliputi pencurian, pembunuhan, perampokan, peredaran obat-obatan terlarang, terorisme, perdagangan manusia dan kejahatan-kejahatan lain. Selain itu, Rusia juga memiliki permasalahan dalam negeri terkait dengan birokrasi pemerintahan yang korup. Hal itu menimbulkan keraguan dalam kebijakan Putin yang ingin meningkatkan anggaran militer. Permasalahan internal untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Rusia atas pemerintahan yang korup juga harus mendapat perhatian lebih. Putin menginginkan adanya pelatihan untuk mendapatkan pasukan militer dengan keahlian khusus dan peralatan militer yang lengkap sehingga dapat meningkatkan kekuatan nasional. Dorongan peningkatan keamanan nasional juga didasari oleh serangan terorisme yang terjadi di wilayah-wilayah bagian federasi Rusia.
Terkait dengan kejahatan perdagangan manusia, Rusia merupakan sumber, negara transit, dan tempat tujuan untuk perdagangan manusia yang meliputi pria, wanita dan anak-anak dengan berbagai tujuan. Rusia menjadi tempat tujuan untuk pria dan wanita yang diperdagangkan dari wilayah Asia Tengah, Eropa Timur, dan Korea Utara ke wilayah Eropa Barat dan Timur tengah[5]. Para pria, wanita dan anak-anak itu diperdagangkan dengan tujuan untuk menjadi buruh kasar untuk industri pertanian hingga eksploitasi seksual.

Melihat kondisi dalam negeri wilayahnya, Rusia menjalin kerjasama dengan Uni Eropa, sebagai wilayah regional terdekat, dalam penanganan dan kebijakan keamanan yang menyangkut kedua wilayah. Saat ini Rusia masih terlibat dalam Kerjasama Lintas Batas Negara (CBC) dengan rancangan hingga tahun 2013, seperti tersebut dalam poin ketiga di atas. Untuk tindakan kriminal seperti kejahatan trans-nasional, peredaran obat-obatan, terorisme, perdagangan manusia hubungan kedua negara akan tetap terjalin baik. Bahkan Rusia juga telah menandatangani kesepakatan dengan PBB untuk membantu memerangi terorisme, baik itu dalam wilayah internal mereka maupun internasional, seperti yang terjadi di wilayah Timur Tengah.
Kelompok Kerja antara Uni Eropa dan Rusia dibuat pada tahun 2005, untuk mendorong dan meningkatkan kerjasama untuk mencegah tindakan terorisme dalam transportasi dan infrastruktur. Keduanya memiliki tujuan utama untuk memerangi terorisme. Rusia menjelaskan kerangka legislatif yang mengatur tentang masalah ini dan menerangkan bagaimana Kementrian Transportasi berkerjasama dengan intstitusi-institusi terkait. Lembaga utama yang terkait adalah Kementrian Situasi Darurat (Ministry of Emergency Situations/EMERCOM) yang memiliki kontak langsung dengan badan intelijen dan polisi. Saat ini, Rusia sedang dalam proses adopsi program keamanan terintegrasi, harus memberikan informasi terhadap Komisi Eropa. Rusia tertarik untuk bekerjasama dengan para pakar dari Uni Eropa.
Namun, hubungan Rusia dengan Uni Eropa akan sedikit terganjal dengan keanggotaan mayoritas negara UE dalam NATO. Sikap Rusia yang anti-NATO dan Amerika akan menjadi bayang-bayang dalam kerjasama keamanan wilayah, terutama yang berhubungan dengan persenjataan bebas missile. Permasalahan di Georgia yang pernah menjadi lingkup wilayah Rusia, masih tidak mendapatkan persetujuan kedua belah pihak. Rusia akan terus berada dalam pendiriannya untuk tetap menjalankan misi peningkatan perlindungan keamanan negara dengan kekuatan missile.
Untuk permasalahan keamanan internasional peran Rusia dalam anggota tetap Dewan Keamanan PBB dapat mempengaruhi keputusan yang terkait dengan konflik-konflik internasional. Namun, persamaan pandangan yang lebih erat terjalin antara Rusia dengan Cina. Selain karena adanya kepentingan nasional, keduanya memiliki prinsip pemikiran yang sama untuk menciptakan kekuatan dunia yang multipolar, sehingga mereka sering melakukan veto terhadap keputusan PBB dalam permasalahan konflik internasional seperti di wilayah Syiria, Afganistan, dll. Lagi-lagi Rusia ingin mengenang romantisme kekuatan mereka saat masih memiliki kekuatan super power dalam Uni Soviet.

Kesepakatan-kesepakatan kerjasama antara Uni Eropa dan Rusia, menimbulkan banyak kemungkinan adanya reformasi dalam institusi-institusi Rusia maupun Uni Eropa untuk menyesuaikan implementasi kerjasama tersebut. Sebagai contoh, adanya kesepakatan untuk melanjutkan wacana bebas visa untuk wilayah Uni Eropa dan Rusia. Di satu sisi, hal tersebut akan meningkatkan dan mempermudah kerjasama kedua negara terutama dalam bidang ekonomi. Sumber daya manusia dari kedua pihak akan lebih mudah melakukan kontak maupun meningkatkan investasi. Namun, hal tersebut akan mempermudah jalan bagi para pelaku kriminal transnasional untuk memperluas aksinya. Selain itu, tingkat migrasi kedua negara tersebut akan semakin tinggi. Kemungkinan tindak kejahatan juga akan meningkat. Karenanya diperlukan institusi antar kedua wilayah tersebut untuk menjamin keamanan warga.
Deklarasi Rekanan Tetap (Permanent Partnership Declaration) pada bulan Mei dan November 2010 menggarisbawahi pentingnya implementasi efektif atas fasilitas visa dan persetujuan pengakuan kembali seperti yang telah disetujui dalam metode langkah-langkah bersama yang harus dilakukan dalam fase lanjutan dialog visa[6]. Pentingnya kerjasama penekanan isu-isu perbatasan dan kerjasama operasional lebih lanjut antara FRONTEX dan Layanan Perlindungan Perbatasan Rusia. Pentingnya pelaksanaan komitmen untuk membangun dan meningkatkan dialog tentang migrasi. Serta perlunya kerjasama lebih lanjut dengan EUROPOL dan EUROJUST dan kesimpulan atas negosiasi yang relevan dengan persetujuan operasional tersebut. Kerjasama memerangi perdagangan obat-obatan terlarang dan kejahatan cyber juga ditekankan. Kedua belah pihak menginginkan kerjasama dalam lingkup sipil dan komersial dan memperkuat kerjasama peradilan dalam permasalahan kriminal.

Uni Eropa dan Rusia bekerjasama dalam bidang keamanan, bukan hanya dalam level nasional tetapi juga tingkat internasional. Kerjasama tersebut lebih condong kearah menjamin keamanan internal batas wilayah keduanya, untuk masalah tindak kriminal transnasional, terorisme, keamanan perbatasan, perdamaian wilayah, dll. Keamanan energi juga menjadi isu hangat antara Uni Eropa dan Rusia. Russia menyuplai sebagian besar energi yang dibutuhkan di wilayah Uni Eropa. Rusia mendapatkan keuntungan dan dapat menjadikan kerjasama itu sebagai “kartu As”, namun ketergantungan Uni Eropa terhadap Rusia bukan merupakan langkah tepat yang harus dilakukan. Sumber energi yang tidak dapat diperbaharui juga akan habis seiring berjalannya waktu dan meningkatnya permintaan manusia. Hal itu mendorong adanya kerjasama energi yang dapat diperbaharui untuk menjamin keamanan ketersediaan energi di kedua pihak.

[2] Bushigina, Irina, Prof. 2012. Analysis of the EU-Russia Relations. MGMIO University: Russia, hal.21
[3] Artikel ditulis oleh Vladimir Putin pada saat masih menjabat sebagai Prime Minister pada masa pemerintahan Medvedev pada tanggal 20 Februari 2012, diakses di pada tanggal 10 Januari 2013 pukul 22:00
[4] Data Russian Federation Federal State Service dengan data terakhir pada tahun 2011, diakses di pada tanggal 10 Januari 2013 pukul 22:00
[5] Sumber dari: diakses pada tanggal 10 Januari 2013 pukul 21:30
[6] Bushigina, Irina, Prof. Op.Cit. hal. 62

Tuesday, January 21, 2014

Jaminan Sosial untuk Pasar Tunggal?

Implementasi Sistem Jaminan Sosial Nasional

Memasuki awal tahun ini, masyarakat Indonesia mendapatkan “kado” dari pemerintah, dengan adanya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 2014. Penyelenggaraan SJSN dilakukan berdasarkan UU No.40 Tahun 2004, bertujuan untuk memberi jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan/atau anggota keluarganya (Pasal 3). SJSN memiliki beberapa program asuransi meliputi jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian. Berbeda dengan asuransi private yang mulai banyak digunakan oleh masyarakat, layanan asuransi ini akan dikelola oleh pemerintah.

Sebagai  bentuk pelaksanaan sistem tersebut maka pada tahun 2011 dibentuklah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang terbagi menjadi dua yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Badan tersebut akan menyediakan layanan jaminan sosial bagi siapapun yang terdaftar sebagai peserta. BPJS merupakan transformasi dari beberapa institusi yang terlebih dahulu mengatur jaminan sosial masyarakat yaitu: PT ASKES, PT JAMSOSTEK, PT ASABRI, dan PT TASPEN. Dalam UU No.24 Tahun 2011 tentang BPJS disebutkan bahwa PT ASKES dan PT JAMSOSTEK yang memiliki fungsi masing-masing dalam mengatur jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan, nantinya akan dibubarkan tanpa likuidasi. Sementara PT ASABRI dan PT TASPEN tidak secara jelas ditegaskan dan pengalihan dana jaminan sosial yang telah ada ke BPJS dilakukan selambat-lambatnya tahun 2029.

Adanya SJSN menunjukkan upaya pemerintah Indonesia untuk berperan langsung dalam menjamin kesejahteraan masyarakat. Sistem ini sudah banyak dilakukan oleh negara-negara maju dan masuk dalam kebijakan sosial pemerintah. Kebijakan SJSN menunjukkan perkembangan positif dan kabar baik bagi masyarakat. Jaminan sosial tersebut berlaku bagi setiap orang yang terdaftar, baik para pekerja, maupun yang tidak bekerja dengan besaran iuran yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Namun, perlu digarisbawahi bahwa pelaksanaan SJSN perlu diiringi dengan pengawasan ketat agar tidak terjadi pelanggaran maupun penyelewengan oleh oknum tertentu.

Dibandingkan dengan negara-negara tetangga di ASEAN, jumlah anggaran yang diberikan pemerintah untuk dalam jaminan sosial masyarakat masih tergolong rendah. Menurut data World Bank 2011, Indonesia hanya mengalokasikan 5.3% dari jumlah total anggaran pemerintah untuk kesehatan. Sementara Thailand, Vietnam, Brunei dan Singapore masing-masing mengalokasikan anggaran pemerintah sebesar 14.5%, 9.4%, 8.8% dan 8.8%  dari total anggaran untuk kesehatan. Alokasi anggaran kesehatan meliputi sistem jaminan layanan kesehatan dan pengobatan yang bersifat universal. Dengan adanya SJSN, anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah akan semakin bertambah. Penerapan dan pelaksanaan SJSN yang sesuai dengan undang-undang dapat berdampak pada peningkatan kepercayaan penduduk di Indonesia maupun di mata internasional.

Jaminan Sosial untuk Integrasi Ekonomi ASEAN

Dalam beberapa kesempatan, pemerintah melakukan sosialisasi tentang momentum Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC) tahun 2015. Terdapat beberapa karakteristik AEC yaitu: (1) berlandaskan pasar dan produksi tunggal, (2) adanya kompetisi ekonomi regional, (3) pembangunan ekonomi regional yang setara, dan (4) regional yang terintegrasi penuh pada ekonomi global. Keempat karakteristik itulah yang menjadi tujuan negara-negara anggota ASEAN untuk mencapai integrasi ekonomi regional. Dengan berlandaskan pasar dan produksi tunggal, terdapat lima elemen penting dalam AEC 2015. Elemen-elemen tersebut meliputi kebebasan perpindahan barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja ahli dalam wilayah ASEAN. Setiap orang memiliki hak yang sama dalam memasarkan barang dan jasa serta keahliannya di setiap negara anggota.

Berbicara tentang sistem pasar tunggal ASEAN, tentu kita tidak bisa melupakan Uni Eropa yang telah memulainya sejak tahun 1986 dan menggunakan mata uang tunggal pada tahun 2002. Poin-poin kebebasan pergerakan barang, jasa, modal dan tenaga kerja juga dilakukan oleh negara-negara anggota. Pada tahun 2004 Uni Eropa dengan kompetensi supranasional, mengeluarkan peraturan tentang kesetaraan jaminan sosial untuk warga negara di setiap negara anggota. Meskipun ASEAN tidak mencetuskan peraturan terhadap negara-negara anggota secara eksplisit, kebijakan SJSN dapat dilihat sebagai salah satu dampak kesepakatan AEC 2015.

Persaingan regional yang semakin ketat mendorong pemerintah Indonesia untuk segera bertindak agar terhindar dari ketimpangan ketersediaan fasilitas maupun pelayanan masyarakat dalam negeri. UU SJSN dirancang sejak tahun 2004, tak lama setelah deklarasi para pemimpin negara ASEAN tentang AEC di Bali Summit pada bulan Oktober 2003. Pemberlakuan SJSN di tahun 2014 menjadi salah satu bukti bahwa pemerintah ingin mengejar ketinggalan dalam kebijakan jaminan sosial. Adanya kebebasan perpindahan tenaga kerja ahli antar negara anggota mendorong lahirnya BPJS Ketenagakerjaan. Jika jaminan sosial di Indonesia tidak dapat bersaing dengan negara-negara ASEAN lain, maka kemungkinan jumlah tenaga kerja yang bekerja di luar negeri akan semakin tinggi. Begitu pula BPJS Kesehatan yang akan memberikan jaminan kesehatan yang ada di dalam negeri.

Satu hal yang patut dipertanyakan adalah bagaimana implementasi SJSN dapat terlaksana dengan baik. Selain bertujuan untuk kesejahteraan penduduk, kebijakan tersebut dapat meningkatkan kapasitas Indonesia untuk menghadapi persaingan dalam integrasi ekonomi regional 2015 mendatang. Indonesia, dengan jumlah penduduk terbesar dalam ASEAN memiliki pasar sumber daya manusia yang terbesar. Jangan sampai sumber daya tersebut hanya menjadi objek eksploitasi para pemilik modal dan inventasi asing yang mempekerjakan penduduk lokal. Adanya kesetaraan standar layanan dan kebijakan antar negara anggota serta sosialisasi terhadap masyarakat sangat berperan penting. Masyarakat Indonesia harus dapat meningkatkan kesadaran dan kualitas diri untuk dapat bersaing dengan para pendatang nantinya. Masyarakat juga tidak boleh dibutakan oleh iming-iming pemodal asing tanpa mengerti hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan di tanah sendiri.

Sunday, January 19, 2014

Tak Ada Yang Salah

Tak ada yang salah
ketika pilihan tak seindah bayangan
Tak ada yang salah
ketika pinang terbelah dan benang terputus di tengah jalan
Tak ada yang salah
ketika rintangan tak henti berdatangan
Tak ada yang salah
ketika butuh lebih banyak pengorbanan

Yang ada hanyalah kekuatan
Yang terkuat adalah keteguhan
Yang tersisa adalah keyakinan
Yang selalu setia, sejatinya adalah teman
Yang selalu muncul bersama dengan harapan
Karena hanya Sang Penguasa
yang dapat membuka pintu-pintu keterbatasan

Makhluk-makhluk kecil dengan segala rupa penyesalan
Tak perlu terucap bantahan, bibit-bibit pengingkaran
Tak perlu lagi mengelak walau hanya setitik kenikmatan
Karena begitulah bentuk cobaan dan ujian
Untuk makhluk-makhluk kesayangan

Tak ada yang salah dalam kegelapan
Karena pemantik pelita pun akan datang
Dalam tiap doa yang terpanjatkan